Mengenal Lebih Dalam Penyakit Necrotic Enteritis pada Pencernaan Ayam

Diterbitkan pada

Untitled 1
Sumber: freepik.com

    Necrotic Enteritis (NE) atau Enteritis Nekrotikan merupakan penyakit yang menyerang saluran pencernaan ayam. Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi akibat kerusakan saluran pencernaan yang berdampak pada peningkatan konversi pakan dan pertumbuhan terhambat. Di Indonesia, necrotic enteritis masih menjadi tren kejadian penyakit unggas terutama pada ayam pedaging.

    Necrotic Enteritis (NE) disebabkan oleh Clostridium perfringens tipe A atau C, merupakan bakteri gram positif, berbentuk batang lurus, membentuk spora, dan bersifat anaerob. Clostridium perfringens dapat ditemukan di dalam feses, tanah, debu, pakan dan litter yang tercemar dan isi usus. Berbagai peningkatan kasus dihubungkan dengan pencemaran pakan dan litter oleh clostridium perfringens. Necrotic enteritis tidak menular secara langsung dari ayam sakit ke ayam sehat tetapi ditularkan secara tidak langsung melalui pakan, alat/perlengkapan peternakan, atau bahan yang tercemar clostridium perfringens. Infeksi banyak di temukan pada kelompok ayam yang mempunyai tingkat kepadatan tinggi.

    Timbulnya penyakit NE bisa karena beberapa faktor lingkungan dan faktor dari tubuh ayam itu sendiri. Faktor lingkungan seperti stress dapat dengan mudah membuat penyakit ini masuk ke dalam tubuh ayam. NE biasanya merupakan infeksi sekunder dari kejadian koksidiosis. Perubahan viskositas usus juga dapat memunculkan NE, hal ini bisa terjadi akibat pemberian pakan dengan kandungan protein dan energi berlebih, atau adanya perubahan komposisi pakan yang dilakukan secara mendadak.

    Kasus necrotic enteritis sering di jumpai pada ayam pedaging umur 2-5 minggu yang dipelihara pada kandang litter. Kasus tersebut dapat menimbulkan sejumlah mortalitas, menyebabkan tingkat keseragaman yang rendah, dan gangguan pencapaian puncak produksi telur. Penyakit NE sering kali ditemukan bersama-sama dengan penyakit koksidiosis, lesi yang ditimbulkan oleh NE mengikuti distribusi lesi yang disebabkan oleh eimeria.

    Pada ayam pedaging, NE dapat ditemukan dalam bentuk akut dan bentuk ringan. Bentuk akut ditandai dengan adanya kematian mendadak tanpa gejala klinis. Bentuk ringan ditandai dengan adanya ayam yang bergerombol, bulu berdiri, depresi, dan penurunan nafsu makan. Secara kronis, NE akan menimbulkan gangguan pertumbuhan, tingkat keseragaman yang rendah, dan peningkatan konversi pakan. Ayam yang mengalami NE mengalami diare dengan mortalitas yang bervariasi antara 5%-15%. Masa inkubasi NE biasanya 3 – 6 hari dan dapat berlangsung selama 10-14 hari jika tidak dilakukan pengobatan. Kejadian penyakit NE dapat ditemukan sejak umur 7 hari dan sering ditemukan terutama pada umur 17-18 hari. 

    Gejala klinis NE dapat dilihat dari konsistensi feses yang cenderung basah, berlendir warna orange kecoklatan, dan disertai busa. NE menimbulkan lesi pada usus halus, terutama pada jejunum dan ileum. Usus menunjukkan gejala rapuh dan distensi akibat pembentukan gas. Mukosa usus tertutup oleh selaput semu yang mengeras dan berwarna kuning atau hijau. Kadang dijumpai perdarahan pada permukaan usus.

    Diagnosa necrotic enteritis didasarkan pada perubahan patologi yang dapat dilanjutkan dengan diagnosa pendukung dengan cara isolasi dan identifikasi bakteri penyebab penyakit tersebut. Tindakan penanganan dan pengobatan yang direkomendasikan adalah pemberian antibiotik dengan kandungan amoxicillin seperti NEO-MONOXAN dan INTRAMOX-200 WS. Selain itu dapat pula diberikan antibiotik lain dengan kandungan lincomycin dan spectinomycin seperti INTERSPECTIN-L WS sebagai pilihan antibiotik. Terapi suportif menggunakan multivitamin seperti TM-VITA dan VIT-ECO perlu di berikan untuk mengurangi stres, menjaga kondisi sistem kekebalan tubuh, dan untuk mengurangi kejadian imunosupresif.